Fenomena Quiet Quitting menjadi tren karier yang banyak dibicarakan di kalangan tenaga kerja Asia. Istilah ini merujuk pada tindakan melakukan pekerjaan sesuai deskripsi minimal yang diwajibkan tanpa upaya ekstra atau loyalitas emosional yang berlebihan terhadap perusahaan.
Quiet Quitting adalah respons terhadap burnout yang meluas dan kegagalan perusahaan untuk memberikan work-life balance yang realistis. Karyawan mendefinisikan ulang keberhasilan sebagai memiliki waktu dan energi untuk kehidupan pribadi, hobi, dan keluarga.
Tren ini memaksa perusahaan Asia untuk mengevaluasi kembali budaya kerja yang seringkali menuntut jam kerja yang sangat panjang. Upaya adaptasi termasuk memperkenalkan 4-Day Work Week atau menawarkan fleksibilitas remote working.
Meskipun Quiet Quitting dikritik sebagai kurangnya ambisi, para pendukung melihatnya sebagai tindakan menjaga kesehatan mental dan penetapan batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Quiet Quitting adalah tren karier di Asia yang mendefinisikan ulang work-life balance, di mana karyawan hanya melakukan pekerjaan minimal. Ini adalah respons terhadap burnout dan kegagalan perusahaan memberikan work-life balance. Perusahaan beradaptasi dengan 4-Day Work Week dan remote working.

