Tren “Micro-Wedding” atau pernikahan mikro telah menjadi pilihan populer di kalangan pasangan muda di kota-kota padat Asia. Berbeda dengan resepsi besar yang melibatkan ratusan atau ribuan tamu, pernikahan mikro berfokus pada perayaan yang lebih intim, eksklusif, dan bermakna dengan daftar tamu yang sangat terbatas.
Pergeseran ini didorong oleh biaya yang semakin tinggi untuk mengadakan pernikahan tradisional besar di kota-kota seperti Singapura, Hong Kong, atau Seoul. Pernikahan mikro memungkinkan pasangan untuk mengalokasikan anggaran mereka yang terbatas pada kualitas pengalaman, seperti makanan mewah, lokasi unik, atau fotografi premium.
Pernikahan mikro sering diadakan di lokasi yang tidak konvensional, seperti rooftop hotel, galeri seni, atau restoran fine-dining yang kecil. Suasana yang diciptakan lebih personal dan santai, memungkinkan interaksi yang lebih mendalam antara pasangan dan tamu yang paling dekat.
Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi tren ini karena adanya pembatasan sosial, namun popularitasnya terus berlanjut karena memberikan kendali penuh kepada pasangan atas hari besar mereka, menghindari tekanan sosial untuk mengundang seluruh kenalan.
Tren “Micro-Wedding” mencerminkan pergeseran nilai dalam pernikahan Asia, dari kewajiban sosial dan pertunjukan status menjadi perayaan cinta yang otentik dan personal. Ini adalah kemewahan dalam kesederhanaan, disesuaikan dengan realitas kehidupan urban modern.

