Penerapan blockchain untuk melacak rantai pasok produk halal menjadi tren teknologi penting di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan keaslian (otentisitas) dan kepatuhan halal pada setiap tahap, mulai dari sumber bahan mentah (ladang) hingga produk akhir yang diterima konsumen.
Sistem blockchain mencatat data tentang proses penyembelihan, pengolahan, penyimpanan, dan transportasi produk makanan dengan cara yang terdesentralisasi dan tidak dapat diubah (immutable). Setiap stakeholder dalam rantai, termasuk auditor dan badan sertifikasi, dapat memverifikasi catatan ini.
Manfaat utama bagi konsumen adalah transparansi total. Dengan memindai kode QR pada produk, konsumen dapat melihat riwayat lengkap produk, termasuk sertifikasi halal yang valid, lokasi pemrosesan, dan bahkan identitas peternak atau petani. Ini membangun kepercayaan pada merek.
Bagi produsen dan eksportir Asia, teknologi ini memungkinkan mereka untuk lebih mudah mematuhi standar halal global dan membuka pasar ekspor baru. Biaya audit dan waktu yang diperlukan untuk sertifikasi juga dapat dikurangi secara signifikan.
Secara keseluruhan, blockchain untuk rantai pasok halal tidak hanya sekadar teknologi, tetapi merupakan solusi tata kelola yang memenuhi kebutuhan etika dan agama konsumen Muslim. Ini menjadi model bagaimana teknologi ledger terdistribusi dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan dan kepatuhan dalam industri makanan global.

